Senin, 21 April 2014
Hujan Daun-Daun: Teenlit yang tidak biasa
Nah, satu lagi buku yang susah banget untuk nggak bias. Lagi-lagi karena kenal yang nulis :).
Jalan ceritanya menggunakan alur maju-mundur. Yang saya sayangkan tidak ada alur flashback yang diselipkan saja di tengah cerita. Soal selera ya itu. Saya kerap merasa gaya bercerita flashback seperti itu lebih elegan daripada flashbacknya harus dipisah jadi bagian tersendiri. Saya juga merasa terlalu banyak topik yang mau diangkat di novel ini, sehingga rasanya seperti belum selesai makan lalu piring saya diangkat sama pelayan restoran. Contoh, sedang asyik-asyik melihat Tania bersama Adrian beromantis ria, tahu-tahu harus dipenggal misteri masa lalu orangtua Tania. Lama pula menggalnya, jadi romansa itu sudah hilang rasanya. Yang saya acung jempol, dua dari tiga penulis novel ini adalah lelaki. Dan mereka tetap bisa pas menggambarkan toko utama yang adalah perempuan. Bravo. Nggak gampang loh. Saya juga jadi membayangkan seperti apa lukisan yang disebut-sebut di novel ini.
Tidak ada novel pertama yang perfect. Mengingat ini debut pertama para penulisnya, ditulis secara estafe pula (trust me, itu lebih susah daripada nulis sendiri)... tiga bintang layak mereka dapatkan.
Looking forward to their solo novel ^^
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar